Selain Obat, Bagaimana Cara Mengatasi Depresi ?

by - 12:40 PM

https://www.alcoholrehabguide.org/treatment/counseling/

Selain Obat, Bagaimana Cara Mengatasi Depresi?
oleh dr. Eduardo Renaldo 

Depresi kerap kali tidak disadari terutama pada penderita yang mengalami dengan depresi ringan karena gejalanya yang kurang mencolok. Barulah ketika depresi menjadi berat, kebanyakan orang menemui dokter dan mendapatkan obat antidepresan. Tapi apakah hanya melulu obat yang dapat dijadikan senjata mengatasi depresi? 

Ya memang hampir semua depresi membutuhkan antidepresan (70%-80% pasien berespons terhadap antidepresan). Setelah sembuh dari episode depresi pertama, obat dipertahankan untuk beberapa bulan, kemudian diturunkan. Untuk pasien yang telah kambuh beberapa kali, dibutuhkan obat pemeliharaan untuk periode jangka panjang. Tapi, apakah hanya itu cara ampuh untuk mengatasi depresi? 

Ternyata ada beberapa cara dalam mengatasi depresi. Bentuk terapi ini sendiri bergantung dari diagnosis, berat penyakit, umur pasien, dan juga repons terhadap terapi sebelumnya. Walaupun sebgaian besar penderita depresi membutuhkan antidepresan, pasien hendaklah diberikan psikoterapi (terapi bicara) seperti terapi kognitif, perilaku, psikodinamik, dan terapi kelompok. Bagi yang mempunyai masalah perkawinan, terapi perkawinan dapat pula diberikan. 

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO) dalam program mhGAP (Mental Health Gap Action Programme) merekomendasikan bahwa sebagai lini pertama selain terapi obat, semua pasien depresi sebaiknya mendapatkan psikoterapi baik itu berupa terapi kognitif-perilaku (cognitive behavioral therapy/CBT) maupun psikoterapi lainnya. Namun tetap, kita harus waspada dengan efek samping obat antidepresan, dan harus mengetahui bahwa antidepresan dapat mencetuskan episode manik pada beberapa pasien bipolar. 

Psikoterapi (terapi bicara) merupakan terapi yang digunakan untuk menghilangkan keluhan-keluhan dan mencegah kambuhnya gangguan psikologik atau pola perilaku menyimpang. Terapi ini dilakukan dengan jalan pembentukan hubungan yang professional antara terapis dengan pasien. Psikoterapi dapat diberikan secara individu, kelompok, atau pasangan sesuai dengan gangguan psikologis yang mendasarinya. Beberapa hal dapat menjadi pertimbangan untuk pemilihan jenis psikoterapi. Jenis psikoterapi yang dapat digunakan antara lain, terapi kognitif-perilaku (cognitive behavioral therapy/CBT), psikoterapi suportif, terapi psikodinamik, terapi kelompok, dan terapi keluarga. 

1. Terapi Kognitif-Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) 

Para ahli yang tergabung dalam National Association of Cognitive-Behavioral Therapists (NACBT) mengungkapkan bahwa definisi dari cognitive-behavior therapy adalah suatu pendekatan psikoterapi yang menekankan peran penting dari pemikiran mengenai bagaimana kita merasakan dan apa yang kita lakukan. 

Prinsip dasar terapi kognitif-perilaku (cognitive behavioral therapy/CBT) menitikberatkan pada pendekatan kognitif (pola pikir) yang meyakini bahwa pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses di mana proses kognitif seseorang untuk menerima, mengolah, menyimpan dan menggunakan kembali semua masukan stimulus sensorik tersebut untuk menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak. Sedangkan, aspek perilaku (behavior) merupakan pendekatan untuk mengubah kebiasaan perilaku seseorang ketika bereaksi di dalam suatu permasalahan. 

Terapi Kognitif 

Terdapat dugaan bahwa penderita depresi adalah orang yang “menjadi tak berdaya”. Depresi sendiri diterapi dengan memberikan pasien latihan keterampilan dan memberikan pengalaman-pengalaman tentang kesuksesan. 

Terapi ini bertujuan untuk menghilangkan gejala melalui usaha yang sistematis, yaitu merubah cara pikir yang otomatis dan maladaptif pada pasien-pasien depresi. Dasar pendekatannya adalah suatu asumsi bahwa kepercayaan-kepercayaan negatif tentang diri sendiri, dunia, dan masa depan dapat menyebabkan depresi. Pasien harus menyadari cara berpikirnya yang salah. Kemudian, ia harus belajar cara merespons cara pikir yang salah tersebut dengan cara yang lebih adaptif. Dari sudut pandang kognitif, pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan harapan-harapan negatif. Cara ini dipraktikkan sebagai modal utama dalam merubah gejala. 

Terapi ini berlangsung kurang lebih 12-16 sesi. Terdapat tiga fase yaitu: 

1. Fase awal (sesi 1-4): Membentuk hubungan awal dengan pasien. Mengajarkan pasien tentang bentuk kognitif yang salah dan pengaruhnya terhadap emosi dan fisik. Menentukan tujuan terapi. Mengajarkan pasien untuk mengevaluasi pikiran-pikirannya yang otomatis. 

2. Fase pertengahan (sesi 5-12): Mengubah secara berangsur-angsur kepercayaan yang salah. Membantu pasien mengenal akan kepercayaan diri. Pasien diminta mempraktikkan ketrampilan berespons terhadap hal-hal yang mencetuskan perasaan depresi dan memodifikasinya. 

3. Fase akhir (sesi 13-16): Menyiapkan pasien untuk mengakhiri dan memprediksi situasi beresiko tinggi yang berkaitan dalam terjadinya kekambuhan, dan mulai melakukan pembelajran untuk melakukan terapi sendiri. 

Terapi Perilaku 

Intervensi perilaku terutama efektif untuk pasien yang menarik diri dari aktivitas sosial dan anhedonia. Terapi ini sering digunakan bersama-sama dengan terapi kognitif atau yang dikenal dengan terapi perilaku kognitif. Tujuan terapi perilaku adalah meningkatkan aktivitas pasien, mengikutkan pasien dalam aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan perasaan yang menyenangkan. 

Fase awal: pasien diminta untuk memantau aktivitas merekam menilai derajat kesulitan aktivitasnya, serta kepuasan terhadap aktivitasnya. Pasien diminta untuk melakukan sejumlah aktivitas yang menyenangkan. Pada fase awal juga turut disertakan beberapa aktivitas sosial yang dapat meningkatkan hubungan interpersonal, perilaku asertif, dan menurunkan perilaku yang cenderung menerima dan bahkan menyerah pada semua hal yang terjadi, sekalipun yang dihadapi itu buruk adanya. 

Fase akhir: Fokus berpindah ke latihan untuk mengontrol diri dan pemecahan masalah. Diharapkan kemampuan yang didapat di dalam terapi dapat digeneralisasi dan dipertahankan dalam lingkungan pasien sendiri. 

Terapi kognitif dan perilaku sangat terkait karena bagaimana kita berperilaku mencerminkan bagaimana kita berpikir terhadap hal-hal atau situasi tertentu. Keseluruhan tujuan dari teknik ini adalah mengidentifikasi tanggapan kognitif mereka yang membentuk reaksi dan memutuskan apakah tanggapan tersebut rasional dan bermanfaat, kemudian mereka akan mempelajari strategi dan cara baru untuk menghadapi masalah tersebut. 

2. Psikoterapi Suportif 

Psikoterapi ini hampir selalu diindikasikan dengan cara memberikan kehangatan, empati, pengertian, dan optimistik. Bantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya dan bantu untuk menenangkan dirinya. Indetifikasi faktor pencetus dan bantu untuk mengkoreksinya. Membantu memecahkan problem eksternal (misalnya masalah pekerjaan, rumah tangga). Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda dekompensasi yang akan datang. Temui pasien sesering mungkin (mula-mula 1-3 kali per minggu) dan secara teratur, tetapi jangan sampai tidak berakhir atau selama-lama nya. 

3. Psikoterapi Psikodinamik 

Dasar terapi ini adalah teori psikodinamik, yaitu kerentanan psikologik yang terjadi akibat konflik perkembangan yang tidak selesai. Terapi ini dilakukan dalam periode jangka panjang. Perhatian pada terapi ini adalah gangguan psikologis menyeluruh yang diduga mendasari gangguan depresi. Misalnya, problem yang berkaitan dengan rasa bersalah, rasa rendah diri, berkaitan dengan pengalaman yang memalukan, pengaturan emosi yang buruk, dan kemampuan interpersonal yang buruk akibat buruknya hubungan dalam keluarga. 

4. Terapi Kelompok 

Terapi kelompok sangat efektif untuk terapi jangka pendek terutama bagi pasien dengan rawat jalan, dan juga lebih efektif untuk depresi ringan. Terdapat beberapa keuntungan terapi kelompok: 

1. Biaya lebih murah 
2. Ada destigmatisasi dalam memandang orag lain dengan problem yang sama 
3. Memberikan kesempatan untuk memainkan peran dan mempraktikkan ketrampilan perilaku interpersonal yang baru 
4. Membantu pasien dalam mengaplikasikan ketrampilan baru. 

5. Terapi keluarga 

Terapi keluarga adalah intervensi yang berfokus untuk mengubah interaksi di antara anggota keluarga dan berupaya untuk memperbaiki fungsi keluarga sebagai suatu unit yang terdiri dari individu-individu. Terapi ini berlangsung selama 8-28 sesi dan satu sesi biasanya dilangsungkan tidak lebih dari sekali dalam seminggu. Tiap sesi dapat memerlukan waktu sebanyak 2 jam. Sesi yang lama dapat mencakup istirahat untuk memberikan waktu bagi terapis untuk mengatur bahan dan merencanakan suatu respons. 

Terapi ini mengasumsikan bahwa setiap anggota keluarga memiliki sifat serta karakter yang unik dan baru tampak ketika mereka berinteraksi langsung. Oleh karena itu, dalam terapi ini suatu keluarga perlu dilihat secara keseluruhan di bandingkan dengan melihat mereka secara individualistik. Terapis keluarga umumnya berpikir bahwa terdapat anggota keluarga yang telah dilabel sebagai pasien yang diidentifikasi keluarga sebagai “sumber masalah, orang yang patut dipersalahkan, dan membutuhkan bantuan.” Tujuan terapi keluarga adalah untuk membantu keluarga mengerti bahwa gejala pasien yang diidentifikasi tersebut adalah problem utama keluarga, bukan sebagai masalah individual. Oleh karena itu, terapis harus dapat sesegera mungkin mengidentifikasi adanya masalah keluarga atau komunikasi keluarga yang salah, untuk mendorong semua anggota keluarga mengintrospeksi diri menyangkut masalah yang muncul. 

Setelah mengetahui beberapa pilihan cara untuk mengatasi depresi, pastikan sebelum memulai terapi anda telah berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti psikiater yang dapat berkolaborasi dengan psikolog klinis untuk terapi non obat sehingga menghasilkan penanganan yang paling cocok dan optimal. Sebelum gangguan semakin berat, jangan ragu untuk segera mencari bantuan pada ahlinya. 


Daftar Pustaka: 

1. mhGAP-Mental Health Gap Action Programme. Antidepressant medication in comparison with psychological treatment for moderate-severe depressive disorder. WHO. 2015 
2. CBT: What is Cognitive-Behavioral Therapy? [Internet]. Diunduh dari: http://nacbt.org/whatiscbt.aspx [22 Mar 209]. 
3. Muqodas I. Cognitive-behavior therapy: solusi pendekatan praktek konseling di Indonesia. Jakarta: ABKIN; 2011. 
4. Sadock BJ, Sadock VA. Synopsis of psychiatry. USA: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. hlm 453-4. 
5. Amir N. Depresi: aspek neurobiologi diagnosis dan tatalaksana. Ed. Ke-2. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016. 

You May Also Like

0 comments