Prevalensi Depresi - Global dan Regional

by - 9:32 PM


Prevalensi Depresi - Global dan Regional
oleh : dr. Eduardo Renaldo

Depresi merupakan salah satu kondisi dengan prevalensi yang tinggi. Satu dari 7 orang mengalami episode depresi dalam kehidupannya. Proporsi penduduk global dengan depresi pada tahun 2015 diperkirakan sebanyak 4,4%. Depresi ini sendiri kerap kali dijumpai pada wanita (5.1%) dibanding pria (3.6%). (WHO 2015)

Depresi merupakan penyebab disabilitas kedua di dunia pada tahun 2010; 8.2% (5.9%–10.8%) pada YLDs Global dan 2,5% (1.9%–3.2%) pada global DALYs. Peningkatan beban sebesar 37,5% antara tahun 1990 dan 2010, ini disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan. Gangguan depresi menjelaskan terjadinya 16 juta kasus bunuh diri pada DALY dibandingkan dengan 4 juta penyakit jantung iskemik pada DALY.

Keadaan ini akan meningkatkan beban keseluruhan gangguan depresi dari 3,0% (2,2% -3,8%) menjadi 3,8% (3,0% -4,7%) pada DALY global dalam Beban Penyakit Global (Global Burden of Disease). Hal ini diperkirakan akan meningkatkan peringkat beban penyakit gangguan depresi dari peringkat 4 (tahun 1990) ke peringkat 2 (tahun 2020).


Menurut WHO, prevalensi depresi bervariasi di setiap wilayah. Dengan jumlah total orang yang hidup dengan depresi di dunia adalah 322 juta hampir setengah dari orang-orang ini tinggal di Wilayah Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik Barat.


Gangguan depresi menyebabkan total lebih dari 50 juta tahun yang bertahan hidup dengan disabilitas (Years Lived with Disability/YLD) pada tahun 2015. Lebih dari 80% dari beban penyakit non-fatal ini terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Angka ini bervariasi di seluruh wilayah WHO, mulai dari 640 YLD per 100.000 penduduk di Wilayah Pasifik Barat hingga lebih dari 850 di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di Wilayah Eropa. Secara global, gangguan depresi duduk sebagai penyumbang terbesar terhadap kehilangan kesehatan non-fatal (7,5% dari seluruh YLD).


Selain di setiap wilayah, tingkat prevalensi depresi juga bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin di mana bila ditinjau dari jenis kelamin perempuan memiliki prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.


Memuncak pada masa dewasa tua (pada perempuan berusia 55-74 tahun di atas 7,5%, dan di atas 5,5% pada laki-laki). Depresi juga terjadi pada anak-anak dan remaja di bawah usia 15 tahun, tetapi pada tingkat yang lebih rendah daripada kelompok usia yang lebih tua.


Prevalensi depresi 0,3% pada anak prasekolah; 2% pada anak sekolah; dan 4-8% pada remaja. Anak-anak pada kedua jenis kelamin memiliki pengaruh yang sama, tetapi pada remaja, perempuan memiliki risiko dua kali lebih besar dibandingkan laki-laki. 

Data yang diambil dari CDC tahun 2014 menunjukkan terdapatnya peningkatan pada tingkat depresi berdasarkan usia, dari 5,7% di antara remaja berusia 12-17 hingga 9,8% di antara orang dewasa berusia 40-59 tahun, tetapi orang dewasa berusia 60 tahun ke atas memiliki tingkat depresi yang jauh lebih rendah (5,4%) dibandingkan mereka yang berusia 18-39 tahun dan 40-59.


Setelah pemulihan dari episode depresi, anak-anak mungkin mengalami gejala sisa, seperti harga diri yang buruk, peningkatan perilaku pengambilan risiko, gejala depresi subklinis, dan gangguan hubungan interpersonal dan fungsi global. Selain itu depresi masa kanak-kanak memiliki risiko 60-70% terus berlanjut hingga dewasa dan 20-40% mengalami gangguan bipolar dalam 5 tahun. Walaupun kerap kali diabaikan, namun hal ini menunjukkan bahwa depresi adalah gangguan kejiwaan yang penting pada anak-anak dan remaja. 

(Depkes) Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, dalam dua dasawarsa terakhir, telah terjadi transisi kesehatan. Hal ini dikarenakan usia harapan hidup yang bertambah, meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut dan meningkatnya insidens Penyakit Tidak Menular (PTM). Saat ini, gangguan disabilitas salah satunya didominasi oleh gangguan mental dan perilaku. Indonesia Sendiri menurut RISKESDAS (2013), pada individu dengan usia ≥ 15 tahun terdapat sebanyak 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk di Indonesia dengan gejala depresi. Hal ini diatas gangguan jiwa berat/psikosis (Skizofrenia); 400.000 orang atau 1,7 per 1.000 penduduk. 

Menurut WHO tahun 2017, Indonesia memiliki angka prevalensi yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara lainnya dengan total kasus 9.162.886 atau sebesar 3,7% dari total populasi secara keseluruhan dan dengan jumlah YLD sebesar 6,6% atau 1.547.905.


Daftar Pustaka

1. Ferrari AJ, Charlson FJ, Norman RE, Patten SB, Freedman G, Murray CJ, et al. (2013) Burden of Depressive Disorders by Country, Sex, Age, and Year: Findings from the Global Burden of Disease Study 2010. PLoS Med 10(11): e1001547. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1001547

2. Depression and Other Common Mental Disorders: Global Health Estimates. Geneva: World Health Organization; 2017. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.

3. Sabaté E. Priority Medicines for Europe and the World "A Public Health Approach to Innovation". Chapter 6: Depression in young and people and the elderly. 2004

4. CDC.Depression in the U.S. Household Population, 2009–2012. U.S. CDC. 2014

5. RISKESDAS 2013

6. http://www.depkes.go.id/article/print/2292/balitbangkes-paparkan-hasil-the-global-burden-of-disease.html

7. http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html

You May Also Like

0 comments