Menjaga Kesehatan Mental saat Pandemi Covid-19

by - 10:08 PM

sumber gambar : kompas.com


Menjaga Kesehatan Mental saat Pandemi Covid-19
Oleh: dr. Eduardo Renaldo

 Virus Corona dan Covid-19 saat ini menjadi tema yang paling banyak di beritakan di seluruh dunia. Dalam situasi yang tidak menentu dan pemberitaan mengenai pandemi Covid-19 yang tidak kunjung mereda, setiap menit masyarakat selalu dihujani oleh berita dan informasi mengenai Covid-19, baik di televisi, media sosial, dan internet.

Tidak hanya itu, sejak diumumkan kasus poitif virus Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu, berbagai aspek kehidupan dari ekonomi, sosial, hingga kehidupan sehari-hari turut mengalami perubahan. Berbagai kebijakan dan strategi baru telah dikeluarkan pemerintah pusat dan daerah dalam rangka mencegah dan memutus rantai penularan Covid-19 di masyarakat.

Mulai dari social distancing, karantina dan isolasi diri, beraktivitas di rumah, banyaknya instansi penyelenggara layanan publik yang membatasi pelayanan bahkan meniadakan pelayanan sementara, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), menjadi satu fenomena yang harus dilakukan.

Fenomena yang berubah dengan begitu cepat dengan waktu yang tidak dapat ditentukan lamanya menyebabkan pandemi virus corona tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental banyak orang seperti gangguan panik, cemas, dan depresi.

Terdapat sebuah survei berskala nasional pertama yang dilakukan di Cina mengenai distres psikologis dengan melibatkan sebanyak 52.730 responden dari 36 provinsi. Studi menunjukkan beberapa faktor yang berpengaruh pada terjadinya distres psikologis seperti gangguan panik, cemas dan depresi, yaitu:

- Jenis kelamin wanita lebih rentan mengalami stres dibandingkan pria dan     dapat mengalami 
  gangguan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
- Individu dengan usia 18-30 tahun atau diatas 60 tahun lebih rentan mengalmi stres, dimana usia 18-
  30 merupakan usia produktif seseorang dan banyak mendapatkan informasi dari sosial media 
  sehingga mudah memicu terjadinya stres. Sedangkan tingginya angka kematian pada pasien dengan
  usia diatas 60 tahun juga membuat kelompok usia ini lebih rentan mengalami stres.
- Tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga lebih rentan dalam mengalami  stres yang dikaitkan  
  dengan tingginya kesadaran pada kesehatan diri sendiri.
- Pekerja yang harus menggunakan transportasi publik dan pekerja yang khawatir dalam terjadinya 
  risiko pengurangan pendapatan atau pengurangan     jumlah pekerja membuat mereka lebih rentan 
  mengalami peningkatan stres psikologis.
- Masyarakat yang tinggal lebih dekat dengan daerah kasus tertinggi juga mempengaruhi terjadi nya 
  stres.

Beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi distres psikologis antara lain dengan ketersediaan sumber daya kesehatan, tingkat pelayanan kesehatan publik yang efisien, dan kebijakan pemerintah dalam mengontrol serta mencegah situasi pandemik ini.

Merasakan cemas, sedih, stres, bingung, takut, dan marah adalah perasaan yang normal saat menghadapi krisis seperti ini. Perasaan ini akan memberikan respon pada tubuh untuk melakukan perlindungan dan memastikan keamanan. Reaksi emosi ini positif dan baik apabila dirasakan dan direspon sewajarnya oleh seseorang. Emosi positif sebenarnya saling berkaitan dengan kualitas kesehatan. Ini karena tubuh dan pikiran saling terhubung dimana perasaan positif terhadap hidup memberi efek kesehatan yang lebih baik.

Tetapi hal ini dapat dikatakan sebagai gangguan apabila perasaan-perasaan tersebut direspon secara berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari. Keadaan tersebut dapat menimbulkan hambatan pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain dan terganggunya kesehatan mental yang berpotensi menurunkan kekebalan tubuh kita.

Menanggapi keadaan ini, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) menghimbau agar masyarakat melakukan 3 hal sederhana berikut:

1. Posting hal positif, menyenangkan, dan memberikan harapan.
- Kirimkan atau siarkan pesan-pesan positif, menyenangkan, dan memberikan harapan (hal ini 
   termasuk untuk Media Massa)
- Carilah dan perbanyak informasi positif, menyenangkan dan memberikan harapan.
- Kurangi membaca berita atau informasi yang tidak dibutuhkan (kita tidak perlu mengetahui 
   semua hal, ibaratnya kita tidak perlu mengetahui pesawat yang sedang terbang itu akan ke 
   mana).
- Carilah sumber inspirasi yang menguatkan (misalnya ODP atau PDP yang mempunyai 
   ketangguhan menghadapi kondisinya.

2. Saling memberikan dukungan dan bantuan.
- Menjaga hubungan sosial (dengan tetap melakukan phsyical distancing) melalui media sosial.
- Saling memperkuat dukungan dan bantuan dalam keluarga.
- Saling memperkuat dukungan dan bantuan dalam komunitas/masyarakat.
- Saling memperkuat dukungan dan bantuan antar teman.
- Memperkuat kesadaran bahwa kita sedang bersama, tidak sendiri, menghadapi    bencana ini.
- Mencari dukungan tenaga profesional (antara lain Tenaga Psikologi - seperti Psikolog,  
   Psikiater, atau profesi lainnya) ketika mengalami perasaan tertekan, kecemasan, dan 
   lainnya (bila diperlukan).

3. Impikan bencana akan berakhir.
- Membangun sugesti positif pada diri sendiri.
- Melakukan relaksasi untuk meredakan tekanan emosi.
- Melatih emosi positif dengan mencari sisi baik dari situasi saat ini
- Meningkatkan religiusitas.
- Memperkuat harapan dan optimisme.
       - Memperkuat keyakinan bahwa diri kita bersama semua pihak mampu mengatasi 
         bencana ini. 

Disaat seperti ini dengan banyak nya perubahan dan pembatasan pelayanan publik dan perubahan penanganan di fasilitas kesehatan akan menghambat masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan fisik dan kesehatan mental. Namun hal ini tidak dapat menjadi alasan untuk meninggalkan pola hidup yang sehat. Kita tetap dapat menjaga pola hidup sehat seperti makan makanan yang bergizi, tidur cukup, olah raga teratur, dan melakukan kontak sosial dengan orang yang dikasihi di rumah dan keluarga atau teman di luar melalui telepon atau alat komunikasi lain.


Mengelola stres ketika #dirumahaja

Karena hati gembira adalah obat untuk kesehatan yang lebih baik, apabila harus tinggal dirumah, PDSKJI juga menyarankan beberapa cara agar kita dapat mengelola stres secara mandiri untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kualitas tidur dan meningkatkan pertahanan tubuh terhadap penyakit. Hal ini dapat dilakukan dengan manajemen stres sebagai berikut:

1. Carilah informasi seputar Covid-19 yang akurat dari sumber terpercaya (WHO, CDC,  
    Kementerian Kesehatan)
2. Tetapkan batas ambang asupan berita tentang Covid-19 yang kita butuhkan.WHO sarankan hanya 
    mencari informasi faktual agar dapat menyusun rencana dan melindungi diri serta orang yang 
    kita cintai
3. Jaga diri baik-baik. Fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Buatlah jadwal rutinitas 
    keseharian agar kehidupan lebih terstruktur namun tetap menyenangkan. Dengan demikian lebih 
    cepat beradaptasi pada normalitas yang baru ini.
4. Komunikasi dengan orang lain dan beri dukungan kepada ODP, PDP, dan penderita infeksi Covid-
    19 melalui WA/Telepon/SMS
5. Pertahankan optimisme, harapan, dan pikiran positif. Bahwa faktanya  penderita infeksi virus 
    Covid-19 ada yang bisa sembuh. Juga fokus pada Here and Now, jangan membayangkan hal-hal 
    yang di luar kendali kita.
6. Perhatikan apa yang kita rasakan. Lumrah jika merasa stres, cemas, kalang kabut, atau sedih. Yang 
    penting utarakan perasaan itu kepada orang yang bisa dipercaya. Bahkan luapkan melalui tulisan, 
    lukisan, atau ekpresi kreatif lainnya. Meditasi juga bisa menjadi medium.
7. Bagi yang mempunyai anak. Bicaralah tentang Covid-19 kepada anak. Mereka butuh jawaban 
    untuk bisa hadapi stres. Beri respon, dengan dan beri reassurance. Orang tua ceritakan juga cara 
    mereka mengendalikan stres sehingga anak bisa belajar dari orang tua.

Diharapkan, apabila setelah melakukan beberapa hal tersebut dan tidak berhasil, masyarakat dapat segera mencari dukungan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater, misalnya dengan mengirimkan email   pertanyaan dan konsultasi seputar kesehatan jiwa kepada:            

pdskjijaya.covid19@gmail.com

Terutama jika terdapat pikiran/perilaku bunuh diri, perilaku kekerasan yang membahayakan, perilaku dan atau emosi yang tidak terkontrol untuk mendapatkan pendampingan psikososial bagi siapapun yang terdampak dari Covid-19. #dirumahaja #BersamaLawanCovid19


 Daftar Pustaka

1. Ombudsman Republik Indonesia. Dampak pandemi Covid-19 bagi penyelenggaran pelayanan publik. [Internet]. Ombudsman; 2020. Diunduh dari: https://ombudsman.go.id/artikel/r/artikel--dampak-pandemi-Covid-19-bagi-penyelenggaraan-pelayanan-publik. Disitasi 16 April 2020.

2. Qiu J, Shen B, Zhao M, et al. A nationwide survey of psychological distress among Chinese people in the Covid-19 epidemic: implications and policy recommendations General Psychiatry 2020;33:e100213. doi:10.1136/gpsych-2020-
100213.


3. Redayani PLS. Gangguan cemas menyeluruh. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G,, editor. Buku Ajar Psikiatri. Edisi ketiga. Jakarta: Badan penerbit FKUI; 2017. hal. 284-288.

4. Himpunan Psikologi Indonesia. Himbauan 3 hal sederhana (HIMPSI dan PDSKJI). [Internet]. HIMPSI; 2020. Diunduh dari: https://himpsi.or.id/blog/materi-edukasi-
Covid-19-5/post/himbauan-3-hal-sederhana-himpsi-dan-pdskji-95. Disitasi 16 April 2020.


5. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Infografis manajemen stres agar daya tahan tubuh tidak turun. [Internet]. PDSKJI; 2020. Diunduh dari: Instagram PDSKJIJAYA. Disitasi 16 April 2020.

6. Centers for Disease Control and Prevention. Stress and coping [Internet]. CDC; 2020. Diunduh dari: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/
managing-stress-anxiety.html. Disitasi 16 April 2020.

You May Also Like

0 comments