Sebuah Upaya Menikmati Waktu Yang Kita Miliki

Foto diambil dari www.pexels.com

Sebuah Upaya Menikmati Waktu Yang Kita Miliki
oleh : Dimas Huda Mahendra S.Psi

Kehidupan modern dengan laju yang semakin bertambah cepat membentuk seseorang memiliki orientasi yang terlalu terarah ke masa depan. Masa depan yang seharusnya tidak memiliki muatan apapun, seolah menyelinap dan menggerogoti kehidupan. Kita amat menghargai keuntungan dari penghematan waktu dan perencanaan di masa depan. Layaknya seorang sopir bus yang menyetir ugal-ugalan demi mengejar penumpang yang belum terlihat, ia lupa bahwa ada penumpang yang berharap keselamatan.

Dalam kajian ilmu psikologi, seseorang perlu untuk mengalokasikan waktu guna menikmati waktu tersebut yang dikenal sebagai konsep Savoring, yaitu secara aktif berusaha untuk memperpanjang dan/ atau mengintensifkan suatu peristiwa menyenangkan, dengan merenungkannya atau mengingat semua detail yang paling menyenangkan. Layaknya gagasan bahwa kita harus berhenti sejenak untuk menikmati setiap rasa makanan yang masuk kedalam mulut kita, dimana kita memanjangkan intensitas untuk menikmati tanpa terburu-buru mengambil sendokan selanjutnya.

Konsep ini diteliti secara mendalam oleh ahli psikologi dari Loyola University of Chicago yang bernama Fred Bryant dan Joseph Veroff. Penelitiannya menunjukkan bahwa kita tidak selalu menanggapi hal-hal baik dalam kehidupan kita dengan cara yang memaksimalkan efek positifnya terhadap kehidupan kita. Alhasil banyak diantara kita menyia-nyiakan kenikmatan suatu peristiwa guna mengejar kenikmatan yang ada dimasa depan yang kitapun belum menjamin dapat memilikinya.
Berikut beberapa hal menjadi keuntungan bagi orang yang melakukan Savoring:

1. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan.

Ketika kita berupaya memperhatikan perasaan dan emosi positif, tubuh kita akan dibanjiri oleh neurotransmiter yang mendorong kita merasa lebih baik seperti meningkatnya produksi hormon dopamin dan serotonin yang mampu mengurangi stres dan menenangkan sistem saraf kita. 

2. Membantu dalam membuat pilihan hidup yang positif.

Ketika kita meluangkan waktu untuk merasakan secara mendalam tentang apa yang menyenangkan bagi kita, hal ini membantu kita untuk membuat keputusan atau menetapkan tujuan untuk masa depan dengan lebih konstruktif yang jauh dari keputusan yang penuh akan muatan emosional. 

3. Mengalami kehidupan yang penuh syukur dan terhindar dari sifat ketidakpuasan terhadap diri sendiri. 

Mereka yang menikmati saat-saat istimewa dalam hidup, sering melaporkan memiliki penghargaan yang lebih besar terhadap diri sendiri dan mampu memandang peristiwa negatif dalam hidup dengan berbagai perspektif. 

4. Mengembangkan rasa percaya diri.

Menikmati saat-saat ketika kita telah mencapai sesuatu atau telah melakukan dengan baik, dapat membangun fondasi kuat terhadap rasa percaya diri. 

Dengan berbagai manfaat tersebut, bagaimana kita mewujudkan savoring dalam kehidupan kita?


Mewujudkan Savoring.

Dalam buku Authentic Happiness milik Martin Seligman, Bryant menceritakan pengalamannya ketika melakukan sebuah upaya Savoring saat mendaki gunung.

Kuhirup udara yang dingin dan tipis yang kuhembuskan secara perlahan. Tercium aroma polemonium yang tajam dan kuat. Kucari sumbernya dan kutemukan sebatang lavender yang tumbuh tegak diantara bebatuan di dekat kakiku. Kututup mataku dan kudengarkan angin ketika ia membumbung ke puncak gunung dari lembah dibawah sana. Aku duduk diantara bebatuan yang tinggi dan menikmati dengan berbaring diam dalam hangatnya sinar mentari. Kupungut sebongkah batu untuk kubawa sebagai cinderamata, pengingat momen ini. Teksturnya yang kasar dan tak rata, terasa bagai kertas amplas. Aku merasakan dorongan kuat untuk mencium batu itu dan ketika aku mengendusnya, aku merasakan betapa lama batu itu terletak ditempatnya jutaan tahun yang lalu.

Lewat penelitiannya dengan berbagai subjek dan proses analisis dengan berbagai studi, Fred Bryant dan Joseph Veroff telah meringkas beberapa cara guna mengembangkan ketrampilan melakukan Savoring.

1. Bagikan perasaan baik dengan orang lain.
Hal ini bisa berupa mencari orang terdekat untuk menjadi media berbagi pengalaman dan menceritakan betapa tinggi penghargaan kita terhadap momen itu. Cara ini juga bisa diartikan sebagai mengubah perspektif peristiwa positif menjadi berita positif. Faktanya, penelitian Erica Chadwick menunjukkan bahwa seseorang hanya perlu berpikir untuk menyampaikan kabar baik kepada orang lain agar merasa lebih bahagia. Selain itu Bryant mengatakan bahwa menikmati merupakan perekat yang mengikat orang dan penting untuk memperpanjang hubungan. Alhasil ketika kita membagi peristiwa positif menjadi kabar baik untuk orang lain, maka proses menikmati secara bersama-sama membawa sebuah hubungan tetap bersama. 

2. Ambillah foto mental. 
Pengambilan foto mental ini seperti yang dilakukan Fred Bryant ketika mendaki gunung dengan menggambil sebongkah batu guna menjadi bahan pengingat peristiwa positif yang terjadi. Dalam bentuk lain, hal ini bisa seperti berhenti sejenak dan menyadari peristiwa positif apa yang ingin kita rasakan. Bryant mengatakan bahwa dalam tahap ini kita seperti mengatakan pada diri sendiri “ini bagus, saya menyukainya”. Dalam ranah yang sejalan, satu penelitian juga mengungkapkan pentingnya upaya mengambil foto mental. Penelitian terhadap orang yang berjalan kaki selama 20 menit setiap hari selama satu minggu dan secara sadar mencari hal-hal baik dilaporkan merasa lebih bahagia. 

3. Ucapkan selamat pada diri sendiri. 
Upaya ini seolah mengatakan bahwa “jangan takut untuk bangga”. Tahap ini juga bisa diartikan sebagai upaya mencintai diri sendiri dengan menikmati peristiwa positif yang terjadi dalam kehidupan. Upaya ini juga dapat terwujud lewat rasa syukur yang nantinya akan bermanifestasi menjadi sebuah motivasi yang mampu memacu semangat untuk peristiwa positif selanjutnya. 

4. Pertajam persepsi sensorik. 
Mempertajam persepsi sensorik bisa diwujudkan dengan meluangkan waktu untuk menggunakannya secara sadar dan menikmati setiap sentuhan yang terasa. Seperti kita meluangkan waktu untuk mengendus makanan, mencium bau makanan, atau menutup mata sambil menikmati setiap rasa makanan yang tersentuh pada lidah. Bryant mengatakan bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena pada setiap waktu kita selalu mendapatkan gangguan dalam bentuk yang beragam. Namun dalam suatu penelitian, mahasiswa yang fokus pada cokelat yang mereka makan melaporkan merasa lebih senang daripada mahasiswa yang melakukan berbagai kesibukan sembari makan. 

5. Membandingkan dengan sesutu yang lebih buruk. 
Pada tahap ini layaknya mengingatkan diri sendiri atas keberuntungan dari hasil yang kita dapat. Upaya ini seperti ketika kita terlambat kerja, kita mengingatkan diri sendiri tentang mereka yang mungkin tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Upaya ini juga lawan dari menyalahkan diri atas kesalahan yang kita buat. Namun lebih pada memetakan penyebab dengan menyadari secara penuh kesalahan yang kita lakukan dan berupaya untuk mencari sebuah penyeleseian. 

6. Terserap penuh dengan peristiwa. 
Erica Chadwick mengatakakan bahwa upaya ini seperti berhenti sejenak dan merenungkan pengalaman positif di tempat kejadian. Upaya ini bisa dalam wujud berusaha untuk tidak mengingatkan diri tentang hal-hal lain yang hendak dilakukan, tentang pikiran apa yang muncul selanjutnya, dan tidak memikirkan cara agar kualitas peristiwa itu bisa lebih ditingkatkan. 

Pada tahap ini kita seolah mematikan pikiran sadar dan menyerap emosi positif selama momen khusus itu berlangsung. Studi tentang pengalaman positif juga menunjukkanbahwa orang-orang yang paling menikmati diri mereka ketika mereka benar-benar terserap dalam suatu tugas atau momen.
Meningkatkan ketrampilan Savoring ini menjadi penting mengingat gaya hidup modern cenderung mudah terburu-buru dan tidak benar-benar meluangkan waktu untuk menikmati setiap detilnya. Waktu yang seharusnya menjadi upaya memanifestasi diri, seolah datang dalam bentuk seperti pemburu dimana tidak ada celah untuk dirayu. Mengejar dan terkejar tergambarkan dalam kehidupan yang berorientasi untuk berbuat lebih banyak dan lebih cepat. Seolah demi menghemat waktu dan merencanakan masa depan, kita kehilangan masa sekarang yang terbentang luas. Untuk itulah Savoring berguna untuk kita meminimalisir kecemasan dan memanfaatkan apa yang kita miliki.


You May Also Like

0 comments