Mengenali Active Listening, Supaya Generasi Z Nggak Apatis!


Active listening adalah satu keterampilan utama dalam komunikasi yang berkaitan dengan dunia sosial. Dalam bahasa Indonesia disebut sebagai aktif mendengarkan, dan pelakunya disebut sebagai active listener. Keterampilan active listening bukan hanya tentang mendengarkan, melainkan sebuah proses memahami dan memaknai apa yang sedang disampaikan dibalik kata-kata yang digunakan.

Active listening sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan keterampilan ini, kamu dapat menjaga hubungan tetap intim dengan orang sekitar dalam makna positif. Selain itu lawan bicara akan senantiasa merasa didengarkan juga dihargai. Menjadi seorang pendengar aktif dapat berguna dalam segala lingkungan. Contoh kegunaannya adalah dalam lingkungan profesional, hubungan romansa, dan dunia sosial. Psikolog adalah salah satu profesi yang menuntut seseorang menerapkan teknik-teknik dalam keterampilan ini.

Generasi Z atau rentang kelahiran 1997-2012 adalah kaum yang paling terpapar teknologi modern. Oleh karena itu, paparan tersebut menyebabkan kebiasaan hidup kurang sehat seperti sibuk dengan gadged hingga sikap apatis pada lingkungan sekitar. Stigma tidak acuh atau apatis ini dapat kamu hapuskan dengan mempelajari teknik dalam active listening.

Teknik dalam Active Listening


Komunikasi yang baik adalah kunci utama menjaga hubungan. Disamping itu, kedalaman hubungan dibentuk dengan cara menghargai satu sama lain. Kamu perlu menggarisbawahi kata active, karena hal ini menuntut partisipasi dalam proses komunikasi. Ini dia beberapa teknik yang dapat menunjang keterampilan active listening kamu!

1. Berikan Perhatian Penuh

Menjadi active listening memberikan arti bahwa kamu hadir dan memberikan perhatian pada apa yang diucapkan dan ditunjukkan oleh lawan bicara. Hal ini termasuk bahasa verbal dan non verbal. Beberapa contoh bahasa non verbal adalah intonasi, gestur, dan mimik wajah.

Sebuah data menunjukkan, hanya 7% saja pesan tersampaikan melalui verbal, sisanya yaitu 93% adalah penggunaan bahasa non verbal. Jika kamu cerdas menangkap setiap bahasa non verbal yang ada, maka kamu dapat memaknai pembicaraan lebih dalam dan mengantarkan pada respon yang lebih bijak.

Ketika kamu memutuskan menjadi pendengar bagi orang lain, itu artinya kamu mengesampingkan segala hal diluar pembicaraan tersebut. Jadi, wajib bagi kamu untuk menjauhkan diri dari segala bentuk distraksi. Kamu bisa senyapkan telfon genggam, memastikan diri siap, atau menghilangkan jenis gangguan lainnya. Jika dalam proses active listening ini kamu memiliki sesuatu yang darurat untuk dikerjakan, maka akan lebih sopan apabila meminta izin terlebih dahulu. Pastikan bahwa kedua belah pihak nyaman.

2. Menghindari Judgemental

Setiap orang ingin dihargai, dihormati, dan didengarkan. Masalah yang dihadapi seseorang bisa jadi bertolak belakang maknanya dengan yang dimiliki oleh orang lain. Setiap orang memiliki sudut pandang dan pengalaman hidup masing-masing.

Sebagai contoh, dipecat dari pekerjaan bisa membuat seseorang menjadi stres dan putus asa, sehingga berat badannya turun drastis. Namun, berbeda dengan yang lain, dipecat dari pekerjaan bisa jadi membuatnya gembira dan bersorak karena pekerjaan tersebut punya beban kerja yang begitu berat.

Individualisasi adalah salah satu kunci utama agar seseorang tidak melakukan judgemental. Individualisasi artinya melihat seseorang secara spesifik, tidak sama dengan orang lain. Dalam active listening kamu harus mencoba memahami suatu isu dari sudut pandang lawan bicara. Ada beberapa tips agar terhindari dari judgemental:

  • Bersikap terbuka pada setiap kemungkinan, tidak bermudah-mudahan menganggap seseorang berlebihan atau over reacting
  • Menunjukkan empati pada masalah yang dihadapi lawan bicara
  • Tingkatkan kualitas dan kuantitas komunikasi dengan orang yang berbeda-beda
  • Sadari jika terdapat pikiran melakukan judge kepada orang lain, lalu hilangkan segera pikiran tersebut
3. Tunjukkan Kepercayaan

Jika seseorang mendatangi kamu untuk menceritakan masalah yang ia miliki, sepatutnya kamu bahagia karena itu. Tidak mudah bagi seseorang berbagi cerita kepada orang lain. Terlebih pada isu kesehatan mental, survivor akan lebih memilih untuk memendam ceritanya sendiri ketimbang berbagi. Tunjukkan bahwa kamu adalah pribadi yang tidak akan menyebarkan masalah mereka, atau menjelek-jelekkan mereka di belakang.

Kepercayaan adalah modal bagi seorang active listener. Cukup dengan tutup mulut dan menjaga rahasia orang lain, maka orang-orang disekitar akan merasa lebih nyaman padamu.

4. Respon dengan Verbal dan Sentuhan (Touching)

Memberikan respon kepada lawan bicara menandakan kamu sedang menerapkan active listening. Dengan merespon, menunjukkan bahwa kamu memahami apa yang sedang dibicarakan, menangkap inti masalah, hingga memvalidasi perasaan lawan bicara. Hal ini dapat meminimalisir terjadi kesalahan pemahaman atau miss communication.

Salah satu cara dalam memberikan respon adalah dengan bercermin. Bercermin adalah mengulang perkataan lawan bicara dengan cara memparafrase. Sederhananya dengan menyampaikan inti bahasan menggunakan gaya dan tata bahasa yang mirip. Sebagai tambahan, kamu juga bisa merespon dengan cara melakukan konfirmasi terhadap satu informasi.

Disamping itu, respon dapat disampaikan dengan cara sentuhan atau touching. Perlu diperhatikan bahwa sentuhan tangan, tepukan lembut pada pundak, hingga pelukan hangat memiliki makna mendalam bagi seseorang yang sedang mengalami masalah berat. Sentuhan atau touching bisa memberikan efek yang lebih besar dibandingkan dengan respon verbal.

Respon lain juga dapat berupa:

  • Ekspresi terkejut, kesal, sedih, bahagia, haru, dan lain-lain;
  • Dahi yang mengernyit;
  • Bola mata menghadap kiri, kanan, bawah, atau atas;
  • Anggukan kepada;
  • Mulut yang bergerak tanpa bersuara.
5. Tidak Terburu-buru Memberikan Solusi

Bersabar atau tidak terburu-buru memberikan solusi, adalah salah satu teknik utama dalam active listening. Dengan bersabar dan menahan diri, kamu memberikan keluangan bicara bagi orang lain tanpa khawatir diinterupsi.

Selain itu, bersabar juga memberikan waktu bagi dirimu untuk memproses informasi yang masuk. Dengan informasi yang cukup, kamu dapat memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan. Kamu juga perlu memperhatikan apa yang sedang dibutuhkan oleh lawan bicara. Terkadang, seseorang menceritakan masalah yang dihadapinya hanya sekadar ingin mengeluarkan emosi negatif. Namun, tidak jarang juga seseorang membutuhkan nasihat agar dapat menyelesaikan masalah tersebut. Kamu harus pintar dalam menempatkan diri.

Langkah-langkah Meningkatkan Keterampilan Active Listening


Tidak mudah menerapkan active lsitening dalam kehidupan, karena hal ini menuntut kesabaran dan empati pada orang lain. Selain itu, setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Peran perkembangan teknologi dengan porsi yang besar, juga menjadikan sikap apatis bermunculan dan biasa terjadi.

Jika kamu ingin mengambil langkah besar dalam menerapkan active listening, maka inilah beberapa langkah yang dapat kamu lakukan:

1. Tingkatkan Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu yang tinggi menjadikan kamu lebih mudah untuk mempelajari sesuatu. Satu hal yang luput dari pandangan ketika menerapkan teknik active listening adalah, kamu dapat belajar banyak dari orang lain! Siapa sangka mengobrol dengan lansia secara rutin dapat menjadikan kamu lebih tangguh dari orang-orang di sekitarmu? Faktanya, seorang lanjut usia sudah lebih dahulu dan lebih lama hidup dibandingkan kamu sehingga ia memiliki pengalaman yang lebih banyak. Kamu dapat mengambil pelajaran hanya dengan menjadi pendengar bagi mereka.

Ketika seseorang terjatuh dalam sebuah masalah, maka kamu tidak perlu terperosok dalam lubang yang sama untuk bisa mengambil pelajaran hidup, bukan?

2. Temukan Bahasan yang Membuat Kamu dan Lawan Bicara Nyaman

Memiliki bahasan yang sama dengan lawan bicara akan membantu kamu tetap terhubung dengannya selama berkomunikasi. Dengan kesamaan topik yang membuat nyaman ini, akan memudahkan kedua belah pihak untuk menghubungkan topik tsb dengan pengalaman masa lalu maupun insight yang pernah didapatkan, sehingga kamu akan lupa ternyata waktu berlalu begitu cepat.

3. Praktek Semua Teknik Dalam Active Listening

Sudah menjadi rahasia umum jika kamu ingin didengarkan orang lain, maka kamu sendiri harus menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Jangan lupa bahwa dalam proses komunikasi, kamu akan mendapatkan banyak manfaat. Hal ini menjadi bekal sehingga ketika bertemu dengan orang yang banyak bicara, kamu tidak akan terkesan dongkol atau kesal. Menjadi seorang pendengar aktif, kamu butuh banyak latihan dan bersabar.


Artikel oleh Baiq Ramdyanti

You May Also Like

0 comments